Syariah 18 Mar 2026 Penulis: Yunila Wati Editor: Pramirvan Datu

Mayora (MYOR) Ditahan Asing, Laba Turun tapi Valuasi Masih Dijaga?

Arus jual investor asing menekan harga di tengah penurunan laba 2025, pasar mulai membaca ulang ekspektasi kinerja emiten konsumsi.

Saham MYOR tertekan aksi jual asing dan laba turun 2025, harga bergerak di bawah 1.900 dengan tekanan berlanjut.

Mayora kembali mencatatkan laba bersih yang turun dan pergerakan saham yang masih tertekan. (Foto: Dok Mayora Indah)
Mayora kembali mencatatkan laba bersih yang turun dan pergerakan saham yang masih tertekan. (Foto: Dok Mayora Indah)

Daftar Isi

  1. 01 Laba Bersih Turun
  2. 02 Tekanan Asing Lemahkan Harga

KABARBURSA.COM – Pergerakan saham PT Mayora Indah Tbk (MYOR) dalam sepekan terakhir menunjukkan tekanan yang tidak bisa diabaikan. Hal ini terjadi bersamaan dengan penurunan kinerja laba bersih sepanjang 2025. 

Di balik angka yang tampak stabil di permukaan, terdapat dinamika arus dana dan struktur perdagangan yang mencerminkan fase distribusi bertahap.

Pada penutupan 17 Maret 2026, saham MYOR berada di level 1.840, turun 1,34 persen dibandingkan hari sebelumnya. Jika ditarik dalam satu pekan perdagangan, harga saham bergerak dalam rentang yang relatif lebar, sempat menyentuh level tertinggi di 1.920 pada 10 Maret sebelum perlahan terkoreksi hingga area 1.800. 

Rata-rata harga harian juga menunjukkan tren penurunan dari 1.907 pada awal pekan menjadi 1.833 pada akhir periode, menandakan adanya tekanan jual yang konsisten.

Dari sisi arus dana, tekanan tersebut terlihat jelas. Sepanjang periode 10 hingga 17 Maret, investor asing mencatatkan penjualan bersih secara beruntun, dengan total net foreign sell mencapai sekitar Rp20 miliar lebih dalam empat hari negatif. 

Pada 17 Maret saja, net foreign sell tercatat Rp4,71 miliar, dengan nilai jual asing mencapai Rp19,22 miliar, jauh di atas pembelian Rp14,51 miliar. Pola ini memperlihatkan distribusi yang cukup aktif, di mana setiap kenaikan harga cenderung direspons dengan aksi jual.

Frekuensi transaksi yang relatif stabil di kisaran 3.000 hingga 5.800 kali per hari, disertai volume yang tetap terjaga di atas 90 ribu hingga 170 ribu lot, menunjukkan bahwa likuiditas saham masih terjaga. Namun, dominasi sisi jual—khususnya dari asing—membuat pergerakan harga cenderung tertahan dan sulit mempertahankan momentum penguatan.

Laba Bersih Turun

Di tengah tekanan tersebut, kinerja fundamental MYOR menunjukkan perlambatan. Sepanjang tahun 2025, laba bersih tercatat Rp2,87 triliun, turun dibandingkan tahun sebelumnya sebesar Rp3,00 triliun. 

Penurunan ini terjadi meski pendapatan mencapai Rp38,68 triliun dan EBITDA berada di level Rp3,86 triliun. Margin operasional masih terbentuk, namun tidak cukup untuk menjaga pertumbuhan laba tetap positif.

Struktur keuangan MYOR masih menunjukkan keseimbangan yang relatif terjaga. Total aset mencapai Rp31,38 triliun dengan ekuitas Rp18,36 triliun. Sementara itu, total utang berada di kisaran Rp13,01 triliun, menghasilkan rasio debt to equity sebesar 0,71 kali. 

Beban bunga tercatat Rp593 miliar dengan rasio EBITDA terhadap beban bunga sebesar 6,52 kali, mencerminkan kemampuan pembayaran bunga yang masih dalam batas aman.

Dari sisi profitabilitas, return on equity (ROE) berada di level 15,60 persen dan return on assets (ROA) sebesar 9,13 persen. Angka ini menunjukkan bahwa MYOR masih mampu menghasilkan imbal hasil terhadap modal dan aset, meski pertumbuhan laba mengalami tekanan.

Valuasi saham berada pada kisaran price to earnings ratio (PER) 14,39 kali dan price to book value (PBV) 2,24 kali. Dengan laba per saham sebesar Rp127,91 dan dividen Rp55 per saham, MYOR masih mencerminkan profil emiten konsumsi dengan distribusi dividen yang tetap berjalan. 

Namun, dengan EV/EBITDA di level 12,49 kali, valuasi tersebut menunjukkan bahwa pasar masih menempatkan ekspektasi tertentu terhadap kinerja jangka menengah.

Tekanan Asing Lemahkan Harga

Jika ditarik ke pergerakan harga, terdapat korelasi yang cukup jelas antara tekanan asing dan pelemahan harga saham. Kenaikan yang sempat terjadi pada 12 Maret, ditandai dengan net foreign buy Rp10,86 miliar, tidak mampu bertahan lama. Setelah itu, tekanan jual kembali mendominasi dan membawa harga turun secara bertahap.

Struktur ini menunjukkan bahwa pergerakan MYOR dalam jangka pendek tidak hanya ditentukan oleh fundamental, tetapi juga oleh dinamika arus dana. Ketika akumulasi tidak berlanjut dan distribusi menjadi dominan, harga cenderung bergerak dalam pola melemah meski secara valuasi belum terlihat ekstrem.

Dengan kombinasi penurunan laba, valuasi yang masih relatif moderat, serta tekanan jual asing yang konsisten, saham MYOR saat ini berada dalam fase penyesuaian. Pergerakan harga yang tertahan di bawah level psikologis 1.900 mencerminkan adanya keseimbangan baru antara minat beli dan tekanan jual yang belum sepenuhnya mereda.

Dalam konteks ini, perdagangan MYOR tidak hanya mencerminkan kondisi internal perusahaan, tetapi juga bagaimana pelaku pasar membaca ulang ekspektasi terhadap sektor konsumsi di tengah dinamika yang lebih luas.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
YU
Redaktur

Yunila Wati

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait