Syariah 11 May 2026 Penulis: Yunila Wati Editor: Pramirvan Datu

NICL Mulai Dipadati Investor Jelang Cum Dividen

Jumlah investor NICL bertambah 782 SID jelang cum dividen Rp6 per saham, sementara transaksi dan arus asing mulai bergerak agresif di pasar.

NICL mencatat lonjakan investor jelang cum dividen Rp6 per saham. Saham nikel ini juga diramaikan arus asing dan transaksi tinggi.

Total investor NICL naik menjadi 17.148 SID dari sebelumnya 16.366 SID pada Maret 2026. (Foto: dok NICL)
Total investor NICL naik menjadi 17.148 SID dari sebelumnya 16.366 SID pada Maret 2026. (Foto: dok NICL)

Daftar Isi

  1. 01 Dividen History
  2. 02 Struktur Kepemilikan Saham dan Free Float

KABARBURSA.COM – Pergerakan saham PT PAM Mineral Tbk (NICL) mulai menarik perhatian pasar menjelang cum dividen tunai yang dijadwalkan pada 12 Mei 2026. Di tengah tekanan pasar yang masih fluktuatif, saham nikel ini justru memperlihatkan pertumbuhan jumlah investor, aktivitas transaksi tinggi, dan aksi korporasi yang kembali berlanjut tahun ini.

Jumlah pemegang saham NICL tercatat bertambah 782 single investor identification (SID) sepanjang April 2026. Dengan tambahan tersebut, total investor perseroan naik menjadi 17.148 SID dari sebelumnya 16.366 SID pada Maret 2026.

Kenaikan harga hampir 4,8 persen dalam satu bulan itu muncul ketika NICL sedang memasuki periode pembagian dividen tunai Rp6 per saham. Cum date dijadwalkan pada 12 Mei 2026, ex date 13 Mei 2026, recording date 18 Mei 2026, dan pembayaran dividen akan dilakukan pada 26 Mei 2026.

Aktivitas Perdagangan Agresif

Di pasar, momentum dividen ini mulai terlihat mempengaruhi ritme transaksi NICL. Aktivitas perdagangan dalam sepekan terakhir bergerak cukup agresif dengan nilai transaksi harian konsisten berada di atas Rp18 miliar hingga Rp23 miliar.

Pada 4 Mei 2026, saham NICL sempat bergerak kuat ke level 880 dengan nilai transaksi Rp23,55 miliar dan volume mencapai 260,31 ribu lot. Saat itu, investor asing juga tercatat melakukan net foreign buy Rp316,67 miliar, menjadi salah satu aliran dana asing terbesar NICL dalam periode berjalan.

Namun pola transaksi NICL berubah cepat dalam beberapa hari berikutnya. Setelah sempat bertahan di area 850–870, tekanan jual mulai membesar menjelang cum dividen. Pada perdagangan 8 Mei 2026, saham NICL ditutup turun 8,62 persen ke level 795 dari posisi sebelumnya 870.

Koreksi tersebut muncul bersamaan dengan lonjakan distribusi asing. Data perdagangan menunjukkan foreign sell mencapai Rp1,97 miliar, sementara foreign buy hanya Rp846,86 juta. Alhasil, NICL mencatat net foreign sell sekitar Rp1,12 miliar dalam sehari.

Dividen History

Meski begitu, tekanan tersebut belum sepenuhnya dibaca negatif oleh pasar. Sebab secara historis, NICL termasuk emiten yang cukup rutin membagikan dividen dalam beberapa tahun terakhir. Pada 2023 perseroan membagikan dividen Rp3 dan Rp4 per saham. 

Kemudian naik menjadi Rp3,5 dan Rp5 pada 2024, lalu meningkat lagi menjadi Rp12 dan Rp15 pada 2025.

Kini NICL kembali membagikan dividen Rp6 per saham pada 2026. Nilainya memang lebih kecil dibanding distribusi dividen besar tahun lalu, tetapi pasar melihat langkah ini sebagai sinyal bahwa perseroan masih menjaga konsistensi distribusi laba kepada investor di tengah dinamika industri nikel global yang mulai berubah.

Struktur Kepemilikan Saham dan Free Float

Di luar momentum dividen, aksi korporasi paling menonjol NICL saat ini sebenarnya berada pada pertumbuhan basis investor dan struktur kepemilikan sahamnya. Laporan registrasi pemegang efek menunjukkan PT Pam Metalindo masih menjadi pengendali utama dengan kepemilikan 43,23 persen atau sekitar 4,59 miliar saham.

Posisi kedua ditempati PT Artha Perdana dengan porsi 28,82 persen atau sekitar 3,06 miliar saham. Sementara publik menguasai sekitar 27,95 persen saham perseroan.

Menariknya, free float NICL kini sudah mencapai 27,34 persen atau sekitar 2,90 miliar saham. Angka tersebut jauh di atas batas minimum Bursa Efek Indonesia sebesar 7,5 persen dan membuat likuiditas saham NICL relatif lebih terjaga dibanding sejumlah emiten tambang berkapitalisasi menengah lainnya.

Pasar juga mulai membaca pertumbuhan jumlah SID NICL sebagai sinyal meningkatnya perhatian investor ritel terhadap saham berbasis nikel. Apalagi sektor nikel masih menjadi salah satu tema besar pasar dalam beberapa tahun terakhir seiring perkembangan hilirisasi, baterai kendaraan listrik, hingga rantai pasok industri energi baru.

Namun dari sisi pergerakan harga jangka pendek, posisi NICL masih cukup sensitif. Koreksi tajam menuju area 795 menunjukkan pasar belum sepenuhnya nyaman menahan posisi menjelang ex dividen. 

Pola seperti ini cukup umum terjadi pada saham dengan karakter trader aktif, ketika sebagian pelaku pasar memilih mengambil keuntungan lebih awal sebelum periode cum date selesai.

Meski begitu, kenaikan jumlah investor, konsistensi dividen, serta likuiditas transaksi yang tetap aktif membuat NICL masih berada dalam radar pasar. 

Dalam kondisi seperti sekarang, arah pergerakan saham NICL tampaknya tidak lagi hanya dipengaruhi sentimen dividen semata, tetapi juga bagaimana pasar membaca prospek sektor nikel dan kemampuan perseroan menjaga momentum pertumbuhan investor di tengah volatilitas harga komoditas global.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
YU
Redaktur

Yunila Wati

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait