Syariah 12 Apr 2024 Penulis: KabarBursa.com Editor: Tim Editorial

Pembiayaan Bermasalah Bank Syariah Meningkat, Berapa?

Pembiayaan Bermasalah Bank Syariah Meningkat, Berapa?
Pembiayaan Bermasalah Bank Syariah Meningkat, Berapa?

KABARBURSA.COM - Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat bahwa mengawali tahun 2024, jumlah pembiayaan bermasalah (NPF) dari Bank Umum Syariah (BUS) dan Unit Usaha Syariah (UUS) meningkat secara year to date (YtD) menjadi Rp11.751 triliun per Januari 2024, dibandingkan dengan Rp1.596 triliun per Desember 2023.

Secara tahunan (YoY), total pembiayaan yang jatuh menjadi NPF juga mengalami kenaikan dari Rp11.625 triliun per Januari 2023. Meskipun demikian, secara rasio NPF, Bank Umum Syariah di Indonesia tetap terjaga di level 2,11 persen per Januari 2024, bahkan mengalami penurunan dari sebelumnya 2,41 persen per Januari 2023.

Rasio NPF untuk Unit Usaha Syariah juga tercatat terjaga di level 2,03 persen per Januari 2024, turun dari posisi sebelumnya sebesar 2,33 persen pada Januari 2023. Meskipun terjadi peningkatan dalam jumlah pembiayaan yang menjadi NPF, penurunan rasio NPF menunjukkan adanya perbaikan dalam kualitas portofolio pembiayaan pada Bank Umum Syariah dan Unit Usaha Syariah.

Jika dihitung dari total pembiayaan yang disalurkan BUS dan UUS pada Januari 2024 yang sebesar Rp565.149 triliun, porsi pembiayaan yang jatuh menjadi NPF hanya sebesar 2,1 persen. Besaran porsi tersebut telah menurun tipis dari sebelumnya 2 persen dari total  pembiayaan Rp488.553 teriliun pada Januari 2023.

Adapun jika dibandingkan secara tahunan (YoY), total pembiayaan yang jatuh menjadi NPF naik dari sebelumnya Rp11.625 triliun per Januari 2023.

Di sisi lain, para bankir memastikan setelah berakhirnya kebijakan restrukturisasi kredit terdampak Covid-19 pada Maret 2024 lalu, tidak akan berdampak pada kenaikan rasio NPF. Maklum saja, dibandingkan bank konvensional, rasio pembiayaan bermasalah atau NPF bank syariah memang lebih rendah.

Direktur BCA Syariah Pranata menyebut saat ini pihaknya tetap fokus dalam menyalurkan pembiayaan, termasuk kepada sektor UMKM. Rasio Loan at Risk (LAR) BCA Syariah tercatat di kisaran 5 persen-6 persen, dengan NPF gross yang terjaga rendah di 0,92 persen.

Dalam menjaga rasio NPF tahun ini BCA Syariah bakal tetap konsisten menerapkan prudent banking practice sejak awal inisiasi pembiayaan, melakukan monitoring kualitas pembiayaan secara ketat serta melakukan penyelesaian pembiayaan bermasalah secara cepat dan efektif.

"Kami menargetkan NPF tetap stabil dan terjaga di bawah 2 persen sampai dengan akhir tahun 2024," kata dia kepada Kontan belum lama ini.

Sementara itu Direktur Syariah Banking CIMB Niaga, Niaga Pandji P. Djajanegara belum lama ini juga menyebut akan selalu menjaga rasio NPF supaya tidak lebih dari 2 persen tahun ini.

Sejalan dengan itu Pandji juga menekankan pembiayaan restrukturisasi Covid sudah minim dan tidak akan berdampak pada kenaikan NPF.

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
KA
KabarBursa.pro Editorial Team

KabarBursa.com

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait